Ditinjau dari data riset dan tren perbincangan siswa SMA
Sebuah survei terhadap siswa SMA Negeri 1 Bajeng mengungkap fakta yang patut menjadi perhatian dunia pendidikan: sebanyak 72,4 persen responden menyatakan bimbingan belajar (bimbel) di luar sekolah berpengaruh terhadap prestasi akademik mereka, dan 60 persen mengaku baru mencapai kategori nilai “sangat baik” setelah mengikuti bimbel. Angka ini, yang dipublikasikan dalam Jurnal Sosialisasi: Penelitian dan Pengembangan Kependidikan Sosiologi, menjadi salah satu indikator kuat bahwa peran sekolah dalam proses belajar siswa mulai dipertanyakan sebagian pihak.
Fenomena ini juga tecermin dalam perbincangan warganet. Tidak sedikit siswa yang secara terbuka mengaku lebih memilih absen dari sekolah demi mengejar sesi latihan soal di tempat bimbel, dengan alasan pemahaman yang mereka dapatkan di sana dirasa lebih optimal dibandingkan di ruang kelas. Sebagian lain bahkan mempertanyakan urgensi kehadiran di sekolah bagi siswa kelas akhir yang tengah fokus mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi.
Mengapa Bimbel Terasa Lebih Menjawab Kebutuhan
Dari sudut pandang riset shadow education — istilah akademik untuk fenomena pendidikan bayangan seperti bimbel dan les privat — setidaknya ada tiga faktor yang membuat bimbel lebih diminati untuk konteks persiapan ujian. Pertama, materi yang disampaikan cenderung lebih terfokus karena disesuaikan langsung dengan target ujian tertentu, sehingga siswa merasa lebih cepat paham. Kedua, intensitas latihan soal di bimbel jauh lebih tinggi, memberi siswa lebih banyak kesempatan mengenali pola soal yang berulang muncul di ujian. Ketiga, adanya jadwal, evaluasi rutin, dan target yang jelas menciptakan dorongan psikologis tersendiri bagi siswa untuk tetap konsisten belajar.
Ketiga faktor ini menjelaskan mengapa banyak siswa merasa proses belajar yang “sesungguhnya” justru terjadi di luar tembok sekolah, terutama saat mendekati masa-masa krusial seperti UTBK atau SNBT.
Namun, Tidak Semua Siswa Memiliki Akses yang Sama
Di balik data yang tampak meyakinkan tersebut, ada persoalan mendasar yang kerap luput dari perhatian: kesenjangan akses. Riset Mark Bray (2023) mengenai shadow education menegaskan bahwa siswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi cenderung memiliki prestasi belajar yang lebih rendah, bukan karena kemampuan mereka kurang, melainkan karena tidak semua siswa punya kesempatan mengakses tutor privat, kelas tambahan, maupun sumber belajar tambahan yang lebih luas.
Dengan kata lain, ketika bimbel dianggap sebagai satu-satunya tempat belajar yang “benar-benar efektif”, siswa yang tidak mampu membayar biaya bimbel otomatis tertinggal, bukan karena kurang usaha, tetapi karena kesempatan yang tidak setara sejak awal. Inilah yang membuat narasi “sekolah hanya formalitas, bimbel yang sesungguhnya mendidik” perlu disikapi dengan lebih hati-hati.
Sekolah dan Bimbel: Peran yang Saling Melengkapi, Bukan Saling Menggantikan
Persoalannya bukan terletak pada keberadaan bimbel itu sendiri, melainkan pada pergeseran cara pandang yang menempatkan sekolah sebagai sesuatu yang “tidak lebih penting” dibanding bimbel. Padahal keduanya memiliki fungsi yang berbeda dan saling melengkapi. Sekolah berperan membangun fondasi pemahaman konsep, menentukan nilai rapor dan jalur SNBP, sekaligus mengembangkan soft skills dan karakter siswa secara menyeluruh. Sementara itu, bimbel lebih berfungsi sebagai sarana pendalaman untuk kebutuhan spesifik, seperti persiapan ujian dengan target akademik tertentu yang berbeda-beda pada tiap siswa.
Siswa tentu boleh memprioritaskan persiapan TKA atau UTBK melalui bimbingan belajar di luar sekolah. Namun, hal itu semestinya tidak lantas membuat kesempatan belajar yang sudah tersedia di sekolah menjadi terabaikan. Jika kedua ruang belajar ini dijalankan secara seimbang dan saling menopang, siswa berpotensi mendapatkan hasil yang lebih optimal, tanpa harus mengorbankan salah satu demi yang lain.
Catatan Penutup
Data survei di atas sepatutnya menjadi bahan refleksi bagi sekolah untuk terus mengevaluasi kualitas proses pembelajaran di kelas, bukan semata dibaca sebagai bukti bahwa bimbel “lebih unggul” dari sekolah. Pada saat yang sama, siswa dan orang tua perlu menyadari bahwa mengandalkan bimbel secara berlebihan, tanpa memperhatikan kesetaraan akses bagi siswa lain, berisiko memperlebar kesenjangan pendidikan yang sudah ada.
Sumber data: Arsyad, A. W. (2018). Pengaruh bimbingan belajar luar sekolah terhadap prestasi belajar siswa (Studi pada SMA Negeri 1 Bajeng). Jurnal Sosialisasi: Penelitian dan Pengembangan Kependidikan Sosiologi, 5(1), 1–4.
Bray, M. (2023). Understanding private supplementary tutoring: Metaphors, diversities and agendas for shadow education research. Journal for the Study of Education and Development, 46(4), 728–773.
Komentar
Posting Komentar
Silahkan komentar yang bebas, terserah