Langsung ke konten utama

Widyaprada Summit 2025: Wamen Dorong Transformasi Jabatan Fungsional untuk Jamin Mutu Pendidikan

 JAKARTA – Widyaprada Summit 2025 resmi dibuka dengan mengusung tema "Bersama Widyaprada, Mutu Pendidikan Terjaga," menandai langkah penting Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dalam memperkuat peran penjaminan mutu. Acara yang diselenggarakan oleh Ditjen PAUD Dikdasmen ini dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Atep Latiful Hayat. Pertemuan puncak ini menjadi forum strategis untuk mengevaluasi dan menetapkan fungsi optimal Jabatan Fungsional (JF) Widyaprada di tengah dinamika pendidikan nasional.

Dalam pidato kuncinya, Wakil Menteri Prof. Atep Latiful Hayat memberikan mandat tegas tentang perlunya transformasi fundamental JF Widyaprada. Beliau menekankan pergeseran fokus dari peran berbasis otoritas struktural menjadi peran berbasis kompetensi dan dedikasi substantif. Wamen meminta agar Widyaprada tidak lagi dipandang sebagai posisi transisi menjelang pensiun, melainkan harus memanfaatkan pengalaman dan ilmu yang dimiliki untuk berfungsi secara optimal dalam upaya menjaga mutu pendidikan.

Peran strategis Widyaprada dalam ekosistem pendidikan ditekankan sebagai garda terdepan penjaminan mutu. JF Widyaprada memiliki tanggung jawab krusial untuk membantu satuan pendidikan berpikir kritis, merencanakan program secara strategis, dan mengambil keputusan yang didukung oleh data atau bukti yang akurat. Hasil kerja Widyaprada diharapkan dapat secara langsung meningkatkan pembelajaran dan kesejahteraan peserta didik, sejalan dengan visi besar untuk mencapai Generasi Emas Indonesia 2045.

Memperluas cakrawala pemahaman, Widyaprada Summit 2025 turut menyelenggarakan sesi berbagi internasional dengan menghadirkan pakar seperti Ibu Jenny Lewis dan Bapak Highwell Colman. Sesi ini memberikan perspektif global, mengingatkan para peserta bahwa penjaminan mutu bukanlah sekadar pemenuhan aturan atau compliance exercise, melainkan sebuah proses perbaikan berkelanjutan yang harus berpusat pada siswa (student-centered improvement journey). Hal ini menuntut JF Widyaprada untuk terus melakukan refleksi jujur dan berorientasi pada praktik-praktik terbaik dunia.

Sebagai penutup rangkaian acara gelar wicara dan international sharing, Widyaprada Summit 2025 diharapkan menjadi pijakan nyata bagi kolaborasi yang lebih kuat dan energi baru bagi seluruh pemegang jabatan fungsional. Semangat yang dibawa pulang oleh para Widyaprada adalah untuk terus menginspirasi dan memastikan bahwa mutu pendidikan terjaga di setiap jenjang dan wilayah, demi mewujudkan pendidikan bermutu yang dapat diakses oleh semua anak bangsa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menguak Sisi Gelap Pendidikan: Mengapa Budaya "Bully" Makin Brutal dan Bagaimana Kita Menghentikannya?

Oleh: Emir Thobroni  JAKARTA – Dunia pendidikan Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Rentetan kasus kekerasan di sekolah, mulai dari perundungan (*bullying*) fisik yang berujung maut, kekerasan seksual oleh oknum pendidik, hingga kekerasan psikis, seolah menjadi "fakta gelap" yang terus menghantui ruang kelas kita. Dalam sebuah diskusi mendalam bersama Tom MC Ifle, pakar pendidikan dan mantan Komisioner KPAI, Retno Listiarti, membedah fenomena ini. Ia menegaskan bahwa apa yang kita lihat di permukaan seringkali hanyalah puncak gunung es dari normalisasi kekerasan dan pengabaian sistemik yang terjadi selama bertahun-tahun. Bukan Sekadar "Kenakalan", Ini Darurat Kekerasan Seringkali masyarakat menyamaratakan segala bentuk gesekan antarsiswa sebagai bullying. Namun, Retno meluruskan bahwa berdasarkan Permendikbudristek No. 46 Tahun 2023, terdapat enam jenis kekerasan spesifik di satuan pendidikan, di mana perundungan hanyalah salah satu di antaranya. "Kekerasan...